JEJAK TELUSUR SEJARAH KOTA SALATIGA 2022

Nama : Stefanus Ragil Setya Atmaja

NIM    : 152021005

Essay kegiatan 17 Mei 2022

Telusur Jejak Sejarah Kota Salatiga DENHUBREM 073


Bangunan kuno merupakan sebuah aset sejarah yang masih bisa dinikmati oleh generasi – generasi bangsa yang akan mendatang, karena sebuah bangunan bentuknya tidak mudah berubah maupun hilang jika tidak dihancurkan. Bangunan sejarah juga masih bisa dimanfaatkan dan digunakan untuk melakukan sebuah penelitian biasanya yang melakukan penelitian adalah sejarawan yang memang penasaran dengan apa yang telah terjadi di masa lalu. Selain bisa melakukan penelitian, bangunan kuno juga masih bisa dimanfaatkan kembali sebagai aset Negara atau pemerintah seperti bisa menjadi kantor, museum dan masih banyak lagi. Hal tersebut terjadi pada bangunan yang kemarin saya kunjungi pada hari selasa tanggal 17 mei tahun 2022. Bangunan tersebut adalah “Denhubrem” yang letaknya tidak jauh dengan Kampus kurang lebih sekitar 500 meter perjalanan. Bangunan tersebut terletak pada Jalan Diponegoro Nomor 86 Salatiga. Bangunan ini terletak dipinggir jalan raya sehingga sangat strategis dan mudah dijangkau oleh masyarakat. Bangunan “Denhubrem” kini dimanfaatkan oleh pemerintah menjadi kantor TNI yang digunakan sebagai markas militer. Bangunan tersebut dimanfaatkan karena masih memiliki struktur bangunan yang kuat dan kokoh sehingga masih layak jika digunakan kembali.

Pada awalnya bangunan “Denhubrem” dimiliki oleh keluarga Philip Baer, seorang Uskup dari kota Rotterdam pada waktu itu. Uskup merupakan sebuah pimpinan dari para pendeta di agama katolik. Philip Baer dilahirkan di Indonesia tepatnya di Manado, tepatnya pada tanggal 29 Bulan juli tahun 1928. Dalam kehidupannya, Philip bear merupakan penduduk nomaden yang artinya berpindah – pindah, yang kemudian keluarga Philip Baer berpindah ke tempat lain, karena mengikuti orang tuanya yang berptofesi sebagai seorang direktur dari negara Belanda. sehingga menjadikan bangunan ini menjadi kosong tidak ada yang menempati. Seiring berjalannya waktu memasuki penjajahan jepang, bangunan ini digunakan untuk tempat interniran (camp tawanan) yang kebanyakan berasal dari kendal dan kebanyakan juga interniran yang berjenis kelamin wanita. Bangunan ini memiliki lahan yang luas sehingga jika kita ingin mengunjungi bangunan ini harus berjalan menanjak sedikit supaya sampai ke depan halaman bangunan tersebut. Bangunan ini memiliki 4 buah kamar, dua di lantai dasar dan dua yang lainnya di lantai kedua. Disebelah kiri bangunan ini memiliki sebuah lorong atau pafiliun. Didepan halaman ini disuguhkan pemandangan tiga gunung yang indah. Bangunan ini juga memiliki ciri khas yang mencerminkan bahwa bangunan ini dibangun pada zaman kolonial belanda yang memiliki struktur yang kokoh dan terbukti hingga sekarang masih bisa berdiri tegak tanp ada yang goyah. Sesuai karakteristik bangunan pada masa kolonial yaitu memiliki tinggi bangunan yang kurang lebih sekitar 5 kaki orang dewasa. Selain itu bangunan ini juga memiliki banyak fentilasi atau lubang keluar masuknya udara, sehingga sangat beda dengan bangunan – bangunan yang kebanyakan beredar di msyarakat yang membedakan adalah suasananya jika memasuki bangunan ini masih terasa sejuk karena memiliki banyak fentilasi. Bangunan ini juga memiliki pintu pintu rumah yang kuat, tinggi, dan tebal. Diatas pintu terdapat fentilasi yang diberi tambahan tralis yang terbuat dari besi sehingga membuat bangunan ini terlihat kokoh dan gagah. Ubinnya pun juga berbeda dengan ubin yang telah beredar di khalayak umum, ubin di bangunan ini terlihat lebih tebal dan jika kaki kita menapak tanpa alas kaki terasa lebih dingin. Selain hal – hal tersebut bangunan ini juga memiliki tangga yang berfungsi untuk menjadi akses menuju ke lantai dua. Tangga disini terbuat dari kayu yang menurut saya kayu tersebut merupakan kayu jati, karena terlihat sangat kokoh, padat, dan berisi. Menurut pembicara, bangunan ini dahulunya memiliki warna dasar putih, mengapa putih karena warna putih melambangkan kebersihan dan juga sudah menjadi ciri khas bangunan kolonial Belanda. Namun sekarang dikarenakan menjadi markas atau kantor militer, bangunan ini di cat dengan warna hijau yang sesuai dengan warna TNI di Indonesia. Serta sekarang ini di depan halaman bangunan “Denhubrem” memiliki tambahan bangunan yang berguna sebagai masjid, namun sedang proses pembangunan. Pada awal bangunan ini memiliki desain pergabungan dari beberapa arsitektur romantik yang identik dengan abad pertengahan.

Pada bagian belakang bangunan ini dahulunya menrut pembicara berguna sebagai kamar pembantu dan dapur. Namun kondisi sekarang ini berguna sebagai kantor dan tempat tidur para bapak – bapak tentara, dan ditengahnya terdapat halaman yang luas dan ditanami beberapa tanaman umbi – umbian. Dilantai dua yang dahulunya diguanakan sebagai kamar, kini dipergunakan sebagai kantor tempat bapak – bapak tentara bekerja. Ditengah – tengah lantai dua juga digunakan sebagai balkon namun tidak ada atapnya. Dari lantai dua ini kita bisa melihat pemandangan yang lebih indah karena pegunungan – pegunungan terlihat lebih jelas jika tidak tertutup awan. Kesimpuilannya adalah bangunan “Denhubrem” sangat berguna sekali, yang pertama dapayt berguna sebagai penelitian sejarah, dan yang kedua dapat berguna kembali serta menguntungkan bagi pemerintah karena bangunan masih layak pakai dan masih kokoh.


Komentar